Social Icons

Pages

Thursday, 17 April 2008

Bersyukur kepada Allah

Baru kemarin sore aku dan teman-teman KKN ku menjenguk putri ibu kost kami sewaktu KKN di Kudus. Namanya Lisa. Ia masih duduk di kelas 2 SMA.
Ketika kami datang, kami melihat Bu Jum, ibunya, sedang menunggui putrinya di depan kamar bedah. Kami bertanya-tanya, begitu parahkah sakitnya de'Lisa sehingga ia harus dioperasi.
Selidik punya selidik, ternyata Lisa kecelakaan. Ia jatuh dari sepeda motor kira-kira dua minggu yang lalu. Kaki kirinya terluka, kulitnya terkelupas bahkan dagingnya pun ikut hilang sebagian. Untuk orang yang kondisi tubuhnya normal seperti kita mungkin itu tidak begitu masalah. Tapi bagi Lisa yang memiliki gangguan fungsi pankreas hal itu menimbulkan kecemasan yang cukup berat baginya. Bila di Kudus, mungkin ia sudah harus diamputasi karena lukanya itu semakin melebar dan membusuk akibat gula darahnya yang kurang bisa terkontrol akibat gangguan pada pankreasya. Namun alhamdulillah, Lisa dirawat seminggu di RS Tlogorejo Semarang. Dokter tidak menvonis dia untuk diamputasi, melainkan hanya melalui perawatan jalan saja. Tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Setiap pagi dan sore hari lukanya harus dibersihkan kemudian diolesi salep penumbuh daging. Terbayang di pikiranku, begitu besar biaya yang harus dikeluarkan orangtuanya. Lisa pun seharusnya melakukan pencangkokan pankreas untuk menormalkan kembali fungsi organ tubuhnya itu. Namun, sang ibu tidak menyanggupi saran dokter karena persoalan biaya. Setiap hari Lisa harus disuntik insulin. Dan ia pun harus berhati-hati agar tidak sampai terluka, karena akibatnya bisa seperti penderita DM yang bia terluka akan begitu lama sembuhnya bahkan bisa menjalar kemana-mana.

Begitulah hidup. Siapa sangka Allah akan memberikan cobaan itu kepada seorang Lisa yang masih begitu muda. Kita tidak pernah tahu rahasia Allah. Setiap yang Dia berikan kepada umat-Nya adalah yang terbaik bagi umat-Nya. Tinggal bagaimana kita mensyukuri segala pemberian-Nya dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang kita alami.

Dulu aku pun pernah menderita sakit yang cukup payah. Enak memang, aku bisa menikmati tinggal di ruang ber-AC dengan makanan-makanan yang terjamin gizinya, buah-buahan yang melimpah. Mandi dimandikan, makan disuapi, tidur ditemani dan dijaga. Tapi sungguh, kalau boleh aku meminta aku tidak ingin lagi mengalaminya. Lebih baik aku hidup sederhana tapi sehat, daripada hidup mewah tapi sakit-sakitan. Tapi meskipun begitu, aku bersyukur kepada Allah karena banyak hikmah yang aku dapat darinya. Melalui sakit itu Allah telah mengingatkanku agar aku selalu bersyukur dan menjaga dengan baik setiap karunia-Nya, termasuk nikmat sehat yang selama ini aku rasakan. Saat aku sakit, akupun jadi tahu betapa banyak orang-orang yang menyayangiku. Keluarga, teman dan sahabat-sahabatku. Aku melihat ada gurat kesedihan di wajah mereka atau bahkan mungkin ada kekecewaan di hati mereka karena aku yang tidak pandai mensyukuri nikmatnya. Aku tidak bisa menjaga kesehatanku dengan baik. Dan aku berjanji tak akan lagi aku kecewakan mereka. Aku akan berikan yang terbaik untuk orang-orang yang kusayangi dan yang menyayangiku.

Tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada-Mu Ya Allah...
Terima kasih atas segala yang Engkau berikan kepadaku
Ampunkan segala kesalahanku
Ya Allah...
Jadikan hamba-Mu ini hamba yang pandai bersyukur kepada-Mu

Belajar Mengaji

Sudah dua kali pertemuan aku tidak bisa hadir. Waktu itu aku mendaftar untuk ikut belajar mengaji. Dua minggu kemarin aku memang sedang di luar kota, di Salatiga dan di Kebumen. Jadi..tentu saja aku harus merelakan tidak hadir.
Minggu kemarin adalah hari pertamaku belajar mengaji. Aku dan teman-teman baruku belajar mengaji dengan nada-nada yang indah. Untung saja aku belum tertinggal jauh, baru sampai nada Bayati. Untuk itu memang biasanya diawali dengan mempelajari nada bayati, sebab nada ini adalah yang paling mudah. Yang paling mudah saja aku masih kesulitan, apalagi untuk mengatur nafas belum cengkok-cengkoknya. Wah..wah..susah juga ternyata.
Dulu sewaktu masih di kalimantan aku memang sudah pernah belajar mengaji seperti ini. Tapi tidak lama dan aku pun belum bisa melagukannya dengan indah.
Aku senang sekali, saat kuliah ini akhirnya aku bisa mempelajarinya lagi. Suaraku memang kurang merdu, nafasku juga tidak cukup panjang untuk melantunkan ayat-ayat suci al-Qur'an dengan nada-nada yang begitu indahnya. Tapi...tidak salah kan bila aku ingin mempelajarinya?

Saat pertama kali aku datang, ustad yang katanya biasa mengajar berhalangan hadir. Beliau sedang mempersiapkan diri untuk lomba MTQ Tingkat Nasional di Banten mendatang. Dan posisi beliau pun digantikan oleh salah satu peserta. Seorang perempuan yang ternyata usianya masih muda, kuliahnya angkatan 2006, dua tahun di bawahku. Namun meskipun begitu, ternyata dia jago betul mengaji. Suaranya sangat merdu. Begitu syahdunya, hingga kami terkagum-kagum kepadanya. Aku jadi merasa malu kepadanya. Usiaku sudah banyak tapi ilmuku belum seberapa bila dibandingkan dengan guru ku itu.
Alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan untuk bertemu dan belajar bersama dalam majelis yang Insya Allah dirahmati-Nya. Aku senang sekali bisa hadir dalam majelis itu. Semoga itu menjadi cambuk bagiku untuk terus belajar dan belajar.
Sekarang aku memilki jadwal kegiatan yang baru. Setiap seminggu sekali aku belajar mengaji. Sebenarnya aku ingin sekali bisa menghafal al-Qur'an, tapi entah kenapa aku masih bermalas-malasan untuk melakukannya. Yach, aku sedang mengumpulkan semangatku agar suatu saat nanti aku bisa menjadi penghafal al-Qur'an.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan ampunan-Nya, rahmat-Nya, cinta-Nya dan Ridho-Nya kepada kita sekalian.

Tuesday, 15 April 2008

Wednesday, 2 April 2008

Kekuatan Ikhlas

Subhanallah...
Andai setiap manusia tahu bahwa betapa besar kekuatan dari sebuah keikhlasan. Seringkali manusia hanya mau menerima tanpa mau memberi atau lebih payah lagi memberi dengan mengharapkan balasan entah berupa barang, jasa atau hanya sekedar pujian dan ucapan terima kasih. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan hamban-Nya yang dilakukan dengan mengharapkan selain ridho-Nya. Allah tidak pernah tidur. Sekecil apapun amalan yang dilakukan manusia tak pernah sekalipun terlewatkan. Allah SWT selalu mencatat segala amal perbuatan kita di dunia. Namun bila kita tak melakukannya dengan ikhlas, maka hanyalah murka Allah yang akan kita dapat.
Ikhlas berarti melakukan suatu hal hanya untuk mengharapkan ridho Allah SWT.
Banyak sekali pengalaman yang ku alami berkenaan dengan keikhlasan. Sungguh membuat ku terpana, janji Allah itu memang pasti. Keikhlasan seseorang Allah balas dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Allah menyegerakan untuk membalas kebaikan hamba-Nya yang dilakukan dengan ikhlas. Itu baru di dunia, di akhirat nanti Allah akan memberikannya lagi yang jauh lebih baik daripada balasan di dunia yang baru secuil saja dari kekuasaan-Nya.

Menjadi orang yang ikhlas, tulus dalam berbuat kebajikan hanya demi mengaharap ridho-Nya memang tidaklah mudah. Belum banyak orang-orang yang bisa seperti itu, bahkan seorang ulama sekalipun belum tentu bisa memiliki keikhlasan itu. Namun sebagai hamba Allah, kita wajib berusaha. Belajar untuk ikhlas...Ikhlas dalam memberi apa yang kita miliki dan ikhlas dalam menerima setiap yang diberikan-Nya.
Insya Allah...pintu surga akan terbuka lebar untuk kita.

Amin...

Diklatsar XI KSR UNDIP

Senang rasanya bisa berkumpul lagi dengan teman-teman KSR. Tanggal 28-30 Maret lalu merupakan momen spesial untuk KSR UNDIP. Diklatsar XI menjadi agenda kali ini . "SAYOGA PARANTA" atau yang berarti tunas-tunas muda yang siap bersemi menjadi hadiah spesial yang dipersembahkan teman-teman dalam rangka HUT KSR UNDIP ke-12 tanggal 27 Maret lalu yang dirayakan bersama pada malam keakraban seluruh anggota bersama calon anggota baru. Jalinan kekeluargaan tampak begitu erat. Nampak tak ada beda antara anggota maupun calon anggota. Semua melebur menjadi satu dan hanyut bersama dalam suasana hangat keluarga besar KSR UNDIP. Pusdiklat PMI, Ngawen, Salatiga menjadi saksi bagi ikrar hati seluruh yang hadir untuk tetap bersama KSR UNDIP dalam suka dan duka, dan memberikan yang terbaik untuknya.